Okay, let’s continue yahh..
Jadi gue dan team mulai
diberangkatkan dr Jakarta ke NTT itu tepat awal bulan Desember 2015. Tepat
sebelum keberangkatan, kami seluruh anak Nusantara Sehat Batch 2 dilepas oleh
bapak Wakil Presiden, Bapak JK, di Monas bertepatan dengan Hari Kesehatan
Nasional 2015.
Sesampainya kami di NTT, kami dilepas oleh Dinas Kesehetan
Provinsi NTT untuk melanjutkan ke Kabupaten lalu setelah pelepasan di Dinas
Kesehatan Kabupaten TTU kami mulai dilepas di tempat penempatan kami. Kelompok
gue ditempatkan di Puskesmas Manamas, yang terletask di Desa Manamas, Kec.
Naibenu, Kab. TTU, NTT , yang berbatasan langsung dengan Timor Leste (RI-
RDTL).
*inilah puskesmas
manamas*
*wajah –
wajah kami*
*(pojok kiri
aldhea tenaga sanitarian (bandung),kedua dari kiri ana tenaga laboraturioum(Kupang,
NTT), kak aty si ibu bidan(Bengkulu), agni tenaga gizi(Jakarta), alfa si
apoteker(Manado) dan pojok kanan itu adel tenaga kesehatam masyarakat(Sukabumi)).
How about comment of our placed by us?
Pertama kita sampe di tempat penempatan, hueeeww banget,
ngeluh nyaa super, ahahha. Maklumlah yaa, secara kami bener- bener anak yang
datang dari kota sana dan ditempatan di daeray yang seperti ini. Jalan yg
berkelok kelok, sempit, kanan, kiri jurang, bukit mengantarkan kami sampai di
penempatan, lihat Hp tetot banget bener – bener lost signal ada yang Hp nya
lowbatt tapi kendala listrik, lihat anjing, babi, sapi, kambing berkeliaran
dimana- mana (ini bias aja disebut taman safari ala desa kami), ngelihat warga
yg kesana sini hanya mengenakan kaos dan kain, gak beralaskan kaki, desa yg
super kering tanamanya (kami datang di bulan desember dan super kemarau), mau
beli ini itu terbatas gakada ataupun ada tapi muahal, kendala bahasa dan budaya
(warga masih terlalu kental akan budaya nya yang makan sirih dan pinang (lepeh
buang sana sini), mereka berbicara dengan bahasa daerah(dawan) yang kalo diajak
ngomong bahasa Indonesia sulit mengerti . Gue bener – bener bersyukur banget
dengan apa aja yang udah dikasih sama Allah dan emng yah kalo mau bersyukur itu
jangan pernah lihat nya ke atas, karena kalo lo lihat ke atas itu lo nggak akan
pernah bersyukur karena masih aja pengen ini itu tapi coba lo liat ke bawah.
Seminggu pertama kami dipenempatan bener – bener sepi. Kami
sebelumnya sudah membeli beberapa bahan pangan untuk jatah sebulan di kabupaten
(anyway, kami stok beras, mie, bihun, smpe beli kompor(secara disini masyarakat
masih menggunakan kompor dan kayu untuk masak) ). Gak ada listrik kerasa banget
gelapnya dan akhirnya gelap serta kesunyian mengantarkan kami tidur untuk lebih
cepat. Lalu gakada listrik yang bener- bener bikin kita homesick karena
sesampainya di penempatan kami belum sempat menghubungi keluarga berasa
bangeeet rindu belum lagi krna di desa penempatan kami gakada.
Gue sendiri berasa lagi di taman safari (versi penempatan),
secara binatang, sapi, anjing, babi, kambing berkeliaran bebas disini. kalian bisa
kok bayangin yang biasanya lo hidup di lingkungan yang cukup steril (B2 dan
anjing, serta binatang lainnya di kandang). Streril disini I mean, gue muslim,
di agama kami tentu B2 dan anjing kita harus jauhi tapi disini karena mayoritas
nonis jd yah kan maklum dan gue yah coba memaklumi ini. Oh iya, disini
masyarakat hamper semua beternak babi, lumayan juga untuk menambah
perekonomian. Disini warga pekerjaan mayoritasnya berkebun dan beternak. Yah,
at least Begitu banyak hal yang harus dimaklumi walau itu rasanya berat banget.


Komentar
Posting Komentar